Sabtu, 29 Desember 2012

PERNIKAHAN

Jika alasan sebuah pernikahan adalah karena mencari kepuasan nafsu belaka, Maka setiap pasangan akan sering bertengkar ketika kepuasan di kamar tidur sudah tidak lagi didapatkankan.

Jika alasan sebuah pernikahan adalah karena kekayaan,
Maka setia pasangan bakal bubar ketika salah satunya mengalami kebangkrutan.

Jika alasan sebuah pernikahan adalah karena kecantikan / ketampanan fisik semata, Maka setiap pasangan bakal lari jika rambut mulai beruban dan muka sudah mulai keriput.

Jika alasan sebuah pernikahan adalah karena hanya ingin mendapatkan keturunan, Maka setiap pasangan akan mencari alasan untuk pergi jika buah hati (anak) tidak kunjung hadir dalam sebuah pernikahan.

Jika alasan sebuah pernikahan adalah karena kepribadian semata,
Maka setiap pasangan akan lari jika pasangannya berubah menjadi buruk tingkah lakunya.

Jika alasan sebuah pernikahan adalah hanya karena cinta,
Maka setiap pasangan akan dengan mudah jatuh cinta dan terpikat pada hal-hal yang lebih menarik baginya,

Dan jika sebuah ikatan pernikahan adalah semata-mata diniatkan karena IBADAH kepada ALLAH SWT,
Maka sesungguhnya ALLAH SWT bakal senatiasa melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya kepada semua pasangan.

Ketahuilah bahwa ALLAH SWT mencintai setiap hamba-NYA melebihi cinta seorang ibu kepada anaknya. Dan tiada balasan bagi pasangan yang demikian selain akan mendapatkan ridha dari-Nya, baik itu di dunia maupun di akhirat


 insya allah, sukron kashiron ya Cak JO.... Kaef halik....

Mencintaimu

<♥> Jika Kau MencintaiKu <♥>

(¯`♡ jika kau mencintaiku karena kecantikanku menyejukkan setiap mata yang memandangnya, kemudian aku bertanya saat kecantikan itu memudar ditempuh usia seberapa pudarkah kelak cintamu padaku ?

(¯`♡ jika kau mencintaiku karena sifatku yang ceria menjadi semangat yang menyala di dalam hati mu kemudian aku bertanya bila keceriaan itu kelam dirundung duka seberapa muram cintamu kan ada?

(¯`♡ jika kau mencintaiku karena ramah hatiku memberi kehangatan dalam setiap sapaanmu kemudian aku bertanya kiranya keramahan itu tertutup kabut prasangka seberapa mampu cintamu memendam praduga?

(¯`♡ jika kau mencintaiku karena cerdasnya diriku membuatmu yakin pada putusanku kemudian aku bertanya ketika kecerdasan itu berangsur hilang menua, seberapa bijak cintamu tuk tetap mengharapku?

(¯`♡ jika kau mencintaiku karena kemandirian yang ku miliki menyematkan rasa bangga mu yang
mengenalku kemudian aku bertanya ?

(¯`♡ jika di tengah itu rasa manjaku tiba menyeruak seberapa tangguh cintamu tuk tetap bersamaku?

(¯`♡ jika kau mencintaiku karena tegarnya sikapku menambatkan rasa kagum pada kokohnya pertahananmu kemudian aku bertanya andai ketegaran itu rapuh diterpa badai
seberapa kuat cintamu bertahan?

(¯`♡ jika kau mencintaiku karena pengertian yang ku berikan menumbuhkan ketenangan karena kepercayaan yang ku tanam kemudian aku bertanya kelak pengertian itu tertelan oleh ego sesaat seberapa kau mampu mengerti cinta ini?

(¯`♡ jika kau mencintaiku karena luasnya danau kesabaranku menambah dalamnya rasa cinta semakin kau mengenalku kemudian aku bertanya mungkin kesabaran itu mencapai batas membendung kesalahanku seberapa besar cinta mampu memaafkan?

(¯`♡ jika kau mencintaiku karena keteguhan imanku bagai sinar yang benderang mengantarkan cahaya kemudian aku bertanya kala iman itu jatuh menurun seberapa berkurang akhirnya cintamu padaku?

(¯`♡ jika kau mencintaiku karena ku yang tlah kau pilih sebagai cinta yang kan kau pegang sepanjang hayat kemudian aku bertanya pun hati ini tergoncangseberapa mantap cinta ini tuk tetap setia?

(¯`♡Andai sejuta alasan tak cukup untuk membuat cinta ini tetap bersama diriku maka biar kupinta satu alasan tuk menjaga cinta ini,Aku ingin kau mencintai karena ALLAH karena Dia kan selalu ada tuk menjaga maka cintaku kan tetap utuh dan setia hingga kelak, ku tak mampu lagi mencintaimu karena cintaku berpulang pada-Nya..


Untuk engkau yg aku harap menjadi qawwamku, kata yang ingin kuucap, kupegang dan kupertahankan, setelah walimatul ursy’


Aku ingin kau mencintaiku karena ALLAH, dengan segala kekurangan dan kelemahanku.



 Syukron katsiron ya Cak JO.....Cak Soer disini Jadi ngenes juga seee...Makanya kalau punya lagi jangan suka menghilang, menghilang entah berantah......

Jumat, 28 Desember 2012

SABAR

•.✿Bismillahirrahmaanirrahiim✿.•

••Saat yang paling JAUH adalah saat mata mampu memandang orang yang kita cintai...
NAMUN kita tak dapat menatapnya dengan halal.

••Saat yang paling JAUH adalah saat kita berhadapan dengan orang yang kita cintai NAMUN kita haram menyentuhnya.

••Saat yang paling JAUH adalah ketika tangan mampu meraihnya NAMUN dia tlah menggenggam jari tangan yang lain.

••Saat yang paling JAUH dan menyakitkan adalah pada saat kita berada di sebuah acara Ijab Qobul,
NAMUN Orang yang kita cintai
bersanding dengan Insan yang menjadi pilihannya..


۩» Itulah saat2 yang paling jauh Versiku.
gimana dengan Versimu .. ??


 By, Mr.Cak Jo.Anak Betawi

Assalamu'alaikum CAK JO......, Allah maha tahu yang terbaik untuk hamba2Nya, kita manusia hanya bisa berusaha yang menentukan Allah swt. Semua pasti ada hikmanya. Intix sabar & ikhlas, kembalikan pada Allah. Cinta tak selamanya harus memiliki. Syukron atas Cerita sedihnya...........( Kami di Bali Tetap bersama-MU ...Mr,JO.....Jazaakallohu khoeron. Wabaarokallohu....)

MATERIALISTIS KAH KITA...


Dalam Era globalisasi dewasa ini yang ditandai dengan semakin ketatnya persaingan di segala bidang, merupakan suatu realitas yang tak dapat dipungkiri dan tak mungkin dihindari oleh setiap orang yang hidup di zaman ini. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi, lebih-lebih media elektronik telah menawarkan suatu gagasan baru ke seluruh dunia tanpa memperhitungkan dampak-dampak negatif yang dapat ditimbulkannya terhadap norma agama dan akhlaq manusia. Promosi bertubi-tubi yang dilancarkan oleh berbagai media massa telah menawarkan kenikmatan hidup dengan gaya modern, konsumtif dan jet-set(mewah). Gaya hidup yang dituntut dan dikejar oleh hampir setiap orang sebagai pelaku kehidupan modern adalah kehidupan yang bebas tanpa batas, baik batas etika kesopanan, moral maupun akhlaq. Roda kehidupan yang dipacu dengan akselerasi tinggi hingga menjadi cepat panas, disamping juga ketatnya dunia kompetisi, khususnya di bidang ekonomi dan prinsip-prinsip pemenuhan kebutuhan serta keinginan manusia, telah memaksa manusia kini tidak lagi berperilaku dan bertindak manusiawi tetapi dengan semau gue (seenaknya sendiri).
  Bagi banyak orang, mencari rizki yang halalan toyyiban (halal dan baik) nyaris dianggap suatu pekerjaan yang sia-sia. Adanya peluang untuk korupsi, kolusi, manipulasi dan sejenisnya yang berseliweran di depan hidung, benar-benar membuat mata mereka menjadi “silau”. Rangsangan manipulasi dan kolusi itu menjadi “klop” manakala kita melihat keadaan ekonomi yang semakin sulit akhir-akhir ini. Susahnya mencari pekerjaan, harga barang-barang kebutuhan yang terus melambung serta gaya hidup yang semakin men-jetset hingga membuat kebanyakan manusia jadi lupa diri, tabrak sana tabrak sini tanpa memperdulikan norma agama, yang penting fulus (uang) bisa didapat dengan mudah walupun harus dengan cara yang kotor dan keji.
  Keadaan seperti ini sesuai dengan apa yang telah disyairkan oleh seorang penyair muda di Zaman Jahiliyah dahulu yang bernama Thorofah bin Al-’Abdi : “‘Pabila anda tak dapat memuaskan keinginanku, biarlah aku memenuhinya dengan seenakku sendiri, orang akan memuaskan nafsunya selama hidup. Setelah mati nanti anda akan tahu bahwa kita semua haus !”. Manusia yang menyatakan dirinya “modern” pastilah menjadi pengikut aliran ini walaupun tidak dengan terang-terangan memproklamirkan dirinya, kecuali orang-orang yang diperliharakan Allah dari padanya.
  Mengenai hal ini, Rasulullah SAW pernah bersabda :
  “Sesungguhnya bagi setiap ummat ada ujiannya, dan ujian bagi ummatku ialah harta kekayaan”. (H.R. Tarmizi)
  “Demi Allah, bukanlah kekafiran dan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kamu, tetapi justru aku khawatir kemewahan dunia yang kamu dapatkan sebagaimana telah diberikan kepada orang-orang sebelum kamu, lalu kamu bergelimang dalam kemewahan itu sehingga binasa, sebagaimana mereka bergelimang dan binasa pula”. (H.R. Tarmizi)
  Apabila diingatkan, baik dengan teguran-teguran religi yang tersirat maupun yang tersurat, sungguh yang keluar dari bibir mereka adalah kata-kata apologi (pembelaan) “Jangankan cari rejeki yang halal, yang haram saja susah !”, begitu sering dilontarkan. Hidup dinilai hanya untuk saat ini saja, mereka tidak lagi dilhami oleh kehidupan masa depan yang bersifat ukhrowi nan kekal dan abadi. Orang-orang itu hanya menghargai kekayaan dan kemewahan dengan segala yang berhubungan dengan kehinaan dan kerendahan moral. Mereka akan mencela orang yang tidak ikut berkecimpung dalam perebutan materi tersebut betapapun orang itu baik budi dan berwatak mulia.
  Salah seorang penyair Arab di Zaman Jahiliyah pernah berkata : “DikutukTuhan seorang budak yang cita-cita dan tujuan hidupnya hanya untuk mencari sandang dan pangan saja”. Bagaimana kiranya (kita tak bisa membayangkan) sendainya penyair tersebut masih hidup sampai sekarang ini, dimana ia melihat terlalu banyaknya orang-orang yang berlomba dan berjibaku untuk tidak hanya memenuhi sekedar sandang pangan saja tetapi lebih memenuhi kebutuhan “kemewahan dunia” walaupun dengan cara yang menjijikan dan keji.
  Adalah seorang sarjana yang bekerja pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), ia seorang yang pintar dan mempunyai talenta dalam dunia ilmu dan penelitian ilmiah serta telah banyak menulis di majalah-majalah ilmiah populer. Namun akhirnya ia pindah ke Departemen Penerangan dan bekerja sebagai penyiar. Ketika ditanyakan apa sebabnya ia mengubah haluan, maka dijawab : “Karena pekerjaan yang baru menjanjikan gaji yang lebih besar...”.
  Ironisnya, seorang ustadz yang sangat dikagumi dan telah berhasil menyusun buku “Tasawuf Islam” sehingga memperoleh penghargaan dari Para ‘Alim ‘Ulama terkemuka. Tapi tiba-tiba ia pindah ke Departemen Luar Negeri dan menjadi interpreter(penerjemah) bahasa Arab demi mengejar tambahan gaji yang lebih besar.
  Ini semua mengindikasikan bahwa materi berada di atas segala-galanya dan telah menjadi sesuatu yang menentukan tujuan hidup sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak secara total, bukan lagi sebagai sarana dan alat untuk mencapai tujuan hidup tersebut.
  Bila kemaksiatan sudah menjadi suatu kebiasaan (bahkan sudah menjadi suatu kenikmatan), apalagi kalau bukan apologi (pembelaan) dan legitimasi(pembenaran) yang menjadi andalan. Sederet kata-kata yang menjijikan pun akan meluncur dengan deras dan fasih-nya dari bibir mereka yang secara otomatis menjadi pandai bertutur bak tukang obat kaki lima di pinggir jalan.Saya ‘kan hanya menerima pemberian orang...Lagi pula saya tidak memaksa khok...! Yah..,saya kan cuma sedikit, lihat tuh babe-babe kita dapatnya lebih banyak”.Dan ketika diingatkan, itu salah dan haram dengan dalil : “Orang yang menyogok dan yang disogok, dua-duanya masuk Neraka”. Mereka menjawab lagi :”Tapi saya berbuat demikian ‘kan untuk menafkahkan anak-isteri ..., bukankah menafkahkan keluarga juga termasuk amal soleh ?”.
Naudzubillah min dzalik !!!
  Begitulah manusia yang telah diserang penyakit Hubbud Dunya (Cinta Dunia), mula-mula hanya ikut menikmati, makin lama makin menjadi, pada akhirnya menjadi ideologi yang akan dibela sampai mati. Mereka hanya berorientasi kepada uang, peluang, dan senang-senang. Inilah sekelumit gaya hidup hedonisme (hanya mencari kesenangan duniawi saja) dan materialisme (hanya mementingkan materi semata) yang tengah melanda masyarakat kita dan orang-orang yang hidup di akhir abad ke-20 ini. Maka bila hal ini tidak disadari dan diwaspadai akan menjerumuskan masyarakat kepada masyarakat yang Dehumanis, Apatis dan Hedonis.
Manusia seperti itulah yang diejek oleh Allah SWT dalam Firmannya :
“Dan kalau Kami kehendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, maka diulurkan juga lidahnya. Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berfikir”.
(QS. Al-A’raaf :176)
Mereka menganggap kemanusiaan adalah suatu komoditi yang tak diperlukan lagi. Mereka berteriak-teriak : “Jangan pikirkan hari esok, hidup cuma untuk hari ini, jangan perdulikan orang lain, yang penting perkuat diri. Jadikan dirimu populer meskipun dirimu bodoh dan biarkan mereka berduyun-duyun bersimpuh dalam tali sepatu kekayaan dan kekuasaanmu”. Itulah gaya hidup para wajah dunia materialistik.
  Mereka mengingkari hari akhirat, sebagaimana disinyalir dalam Al-qur’an :
  “Dan mereka berkata : “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup tidak ada yang membinasakan kita selain waktu”, dan mereka sekali-kali tidak tidak mengetahui pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS : 45:24)
  Seorang Muslim sepatutnya menjadi manusia-manusia yang diperhitungkan, baik kualitasnya, profesionalismenya, maupun ketajaman akal-budi dan rohaninya, bukan yang diperhitungkan karena seringnya membuat kerusakan dan keonaran di mana-mana.
Kekayaan dan kekuasaan penting bagi Seorang Muslim, lebih dikarenakan untuk membiayai dan mendukungJihad Fi Sabilllah (Berjuang di Jalan Allah) dan menjadi senjata untuk menundukkan kejahiliyiahan, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan tetapi lebih untuk kepentingan dan Kemaslahatan seluruh ummat di manapun mereka berada. Karena antara seorang muslim dengan muslim yang lain adalah bersudara.Seorang muslim harus tampil sebagai sosok figur yang terbaik dalam segala sudut kehidupan (Kuntum Khairu Ummah).
  Akhirul Qalam..., penulis berwasiat kepada diri sendiri dan para pembaca Semoga kita semua terhindar dan dijauhkan dari hal-hal serta sifat-sifat tersebut di atas, begitu juga keturunan kita, sanak dan saudara serta kerabat dekat kita. Aamiin...

By. Mr, CAK JO.  Anak Betawi